Culture beyond the Classroom

Kaum Muda Dulu Beda dengan Kaum Muda Sekarang


Banyak politisi muda merasa kecewa dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh LSI. Pasalnya dalam survei itu mengungkap ketidakpercayaan publik terhadap kiprah politisi muda saat ini. Dari survei yang dilaksanakan selama September 2011, dengan jumlah responden 1.200 dari 33 provinsi, diperoleh hasil bahwa publik menilai perilaku politisi muda yang tidak baik mencapai 75,2%, sedang yang menilai politisi muda baik hanya 24,8%.

Survei ini tentu mementahkan harapan masyarakat terhadap munculnya pemimpin-pemimpin muda di tengah semakin carut marutnya kondisi bangsa yang dikelola oleh kaum tua. Survei ini pula tentu akan menghambat kaum muda yang bersih untuk bisa tampil ke depan karena stigma dari survei itu. 
Sepertinya meski tanpa survei itu, masyarakat sudah tahu bahwa saat ini ada politisi-politisi muda yang diharapkan untuk bisa tampil ke depan namun dirinya terjebak dalam tindak korupsi.  Selain itu walau ada pemimpin muda yang tidak terlibat dalam tindak korupsi, namun ia tidak menunjukan potensinya sebagai seorang calon pemimpin. Komposisi anggota DPR saat ini tercatat 70% diantaranya adalah anak muda, namun kondisi DPR sangat mengenaskan.

Masyarakat mengidamkan seorang pemimpin muda, karena dalam benak masyarakat masih tertanam dan terngiang bagaimana kiprah kaum muda dalam masa-masa perjuangan kemerdekaan yang mampu mendobrak belenggu-belenggu penjajah hingga Indonesia merdeka. Mungkin kondisi yang berbeda itulah yang menyebabkan kaum muda dulu berbeda dengan kaum muda sekarang.

Sebenarnya latar belakang orang tua kaum muda jaman dulu dan jaman sekarang tidak jauh beda, yakni sama-sama dari golongan yang mampu secara ekonomi dan darah biru. Dulu tokoh-tokoh kaum muda lahir dari kalangan-kalangan priyayi, sekarang anak-anak muda lahir dari anak seorang pemimpin partai, tokoh masyarakat, dan anak-anak petinggi negara. Namun yang berbeda adalah, dulu banyak golongan kaum priyayi yang tercerahkan, sedangkan sekarang ini orang tua anak muda-anak muda lebih dihadapkan pada masalah pragmatisme, bahkan ada orangtuanya yang menjadi koruptor.

Sebagai golongan priyayi yang tercerahkan, mereka berupaya bagaimana negerinya yang sedang dilanda penjajahan mampu menjadi sebuah negeri yang bebas menentukan pendapatnya sendiri. Anak-anak priyayi yang tercerahkan itu berjuang dengan berbagai cara, ada yang melalui organisasi, lewat korespondensi surat menyurat, dan ada yang melalui media. Mereka semua berjuang dari bawah, sehingga betul-betul bisa memahami kondisi masyarakat yang ada. Tokoh-tokoh muda seperti itu adalah Kartini, Raden Mas Tirto Adi Suryo, Ciptomangun Kusumo, Sutomo, Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan banyak lagi tokoh muda lainnya. Mereka kalau tidak anak bupati, ya masih ada darah yang dekat dengan bupati-bupati yang berkuasa saat itu. Sedang kalau dari luar Jawa, mereka adalah anak pedagang atau saudagar.

Anak muda sekarang dibesarkan dalam suasana yang manja, yakni orangtuanya kaya, kemudian lingkungan sekitarnya sudah mapan sehingga anak-anak muda itu menjadi tidak peka apa yang terjadi di masyarakat sesungguhnya. Kalau toh mereka bekas aktivis, aktivitasnya hanya bersifat jenjang perkaderan semata tanpa pernah melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak muda sekarang bila mereka hendak menjadi politisi, karpet merah sudah menghampar di depan mereka tanpa susah-susah payah merintis dari bawah. Hal demikian bisa terjadi karena orangtuanya adalah pemimpin partai politik. Mereka ada darah biru di elit partai itu. Kondisi ini membuat mereka secara kaderisasi terkarbit dan tidak matang sehingga perilaku mereka seperti apa yang tergambar dalam survei LSI itu.

Sebenarnya saat ini masih banyak anak-anak muda yang baik, bersih, dan cerdas, namun mereka kurang mendapat tempat. Mereka kurang mendapat tempat di partainya mungkin karena ia bukan anak petinggi partai, bisa juga karena geliat aktivitasnya dihambat, dan like and dislike dari seniornya. Sehingga tidak tampilnya anak muda yang baik, bersih, dan cerdas juga karena  dihambat oleh kaum tua.

Untuk menampilkan tokoh muda yang lebih banyak, bersih, dan cerdas, memang harus diciptakan sebuah sistem kaderisasi yang transparan dan terukur, artinya di mana setiap kader yang memang benar-benar mampu harus didorong atau diberi jalan untuk tampil ke depan. Jangan hanya gara-gara ia bukan darah biru di dalam partai lalu mereka dihambat. Selama ini partai-partai politik dan organisasi massa agama dalam soal kepemimpinan sudah memagari agar posisi-posisi strategis diduduki oleh anak-anak petinggi partai dan darah biru, akibatnya orang yang mempunyai kemampuan, bersih, dan cerdas tidak muncul.

Bila jaman dulu banyak priyayi yang tercerahkan maka untuk itu kita juga perlu mendorong para orangtua sekarang yang saat ini menjadi pemimpin partai, pengusaha, dan petinggi negara, untuk dicerahkan. Maksudnya, agar mereka selain antikorupsi dan peka kepada masyarakat juga bila dalam mendidik anaknya harus mengajarkan nilai-nilai yang benar, yakni keterbukaan, transparansi, antifeodalisme, egaliter, persamaan hak dan kewajiban, serta mau berkompetisi secara fair. Pendidikan seperti inilah yang membuat anak-anak mereka selain cerdas, demokratis, juga mau bersaing secara sehat dan terukur dengan anak muda yang lain.

Oleh : Ardi Winangun
Siswa Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa-Megawati Institute

Filed under: INDONESIA KU, INTERNATIONAL, SPECIAL NEWS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: