Culture beyond the Classroom

Rupiah Menguat, BI Jangan Intervensi!


Bank Indonesia (BI) diminta tidak terlalu berambisi melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan nilai tukar rupiah.

Pengamat ekonomi UGM Anggito Abimanyu mengatakan penguatan rupiah yang terus belakangan ini tak lepas dari intervensi yang dilakukan BI. Saat ini rupiah telah menyentuh level level Rp8.900. “BI seharusnya jangan terlalu berambisi melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan rupiah,” ujar Anggito yang juga mantan Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Denpasar, Bali, Rabu (1/12/2010).

Anggito hadir dalam Konferensi Tahunan Federation of ASEAN Ecomomic Association
(FAEA) ke-35 yang berlangsung di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar,
mulai1-3 Desember.

Dia mengatakan, rupiah sepanjang tahun 2010 ini mengalami penguatan sekitar 5,5 persen. Padahal penguatan seperti negara negara lain bisa mencapai angka tujuh persen jika tidak diintervensi. “Angka tujuh persen atau rupiah dilevel Rp8.800 per USD masih konservatif,” sebut Anggito yang juga Sekretaris Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).

Karena itu di meminta agar BI memperlonggar intervensinya dalam mempertahankan rupiah. Sebab intervensi itu bukan tanpa biaya, karena setelah membeli dolar di pasar, harus melakukan sterilisasi untuk mencegah terjadinya deflasi.

Dia melihat saat ini penguatan mata uang terjadi juga di negara-negara lain atau terjadi bersamaan, hal itu berbeda jika nilai rupiah yang menguat sendirian. Maka bisa berakibat daya saing negera akan tergerus.

“Sedikit dilonggarkan saja BI tidak perlu intrervesi di pasar sehingga punya daya saing cukup kompettif dibanding negara lain, kecuali negera seperti China yang melakukan intervensi. Semua negara Asean atau mitra kita juga mengalami penguatan nilai mata uangnya,” ujarnya.

Menurutnya, BI terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk melakukan intervensi,  padahal intervensi tersebut dinilai tidak terlalu krusial. “Nilai tukar regional  saat ini terus menguat, sehingga penguatan rupiah tidak akan terlalu berdampak terhadap perekonomin Indonesia,” paparnya.

Disinggung sial imbas krisis Irlandia dan Korea, Anggito meyakini hal itu ada
namun tidak akan terlalu berdampak serius terhadap Indonesia. Kecuali jika
krisis tersebut berlangsung lama maka sedikit banyak akan mempengaruhi
perekonomian kawasan lainnya.

“Irlandia tidak memiliki hubungan langsung dengan Indonesia, kecuali krisis  Irlandia merembet ke negara-negara tetanganya seperti Spanyol Belanda atau Eropa, ya itu kita perlu khawatir karean memiliki hubungan langsung dengan Indonesia,” ucapnya.

Demikian pula, Krisis keamanan Korea saat ini dinilai ada dampaknya namun tidak
siginikan. Dampak secara langsung tidak ada meskipun hal itu menimbulkan
sentimen global.  “Jika terjadi perang berkepanjangan ya mungkin berdampak
kepada Indonesia, namun sekarang kan belum belum terlihat ada pengaruhnya, ”
ujar pria kelahiran Bogor tersebut.

Filed under: SPECIAL NEWS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: