Culture beyond the Classroom

Sirine Tsunami Rusak


TIGA dari sembilan alat pemantau tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS) yang dipasang di 9 lokasi Kota Padang, mengalami kerusakan akibat gempa. Kondisi itu, tentu saja membuat Kota Padang semakin tidak siap menghadapi kemungkinan amukan tsunami akibat gempa besar di kemudian hari.

Selama ini, alat pemantau tsunami berupa sirine itu, dipasang di sembilan titik di sepanjang perairan Kota Padang yang dipasang secara berjaringan seperti di kawasan Puruih dan Bunguih. Kerusakan pada satu sistem, akan menyebabkan fungsi pada sistem lainnya error. Sehingga secara otomatis, kesembilan alat pemantau tsunami tersebut tidak bisa berfungsi lagi.

Kerusakan TEWS ini, diakui Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Padang Budhi Erwanto SH usai hearing dengan Komisi D DPRD Padang kemarin (27/10). Dikatakannya, saat ini pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap TEWS yang rusak tersebut dan telah dilakukan upaya perbaikan. Namun, masih belum bisa berfungsi guna memberikan sinyal kepada masyarakat apabila terjadi tsunami.

 

“Kita sudah lakukan perbaikan dan pengecekan ke sembilan lokasi tempat penanaman TEWS tersebut. Namun, sekarang masih belum bisa difungsikan,” tandas Budhi.

Terkait penanggulangan bencana, sebut dia, ke depan harus ada protap khusus yang mengatur dan menghubungkan berbagai instansi terkait penanggulangan bencana. Sehingga, koordinasi dan komunikasi bisa lebih terarah dan Pemko Padang lebih siap lagi, dalam menghadapi bencana ke depan.

Tidak Terintegrasi
Ditempat terpisah, Kepala Sekretariat Satkorlak PB Sumbar Ir Ade Edward menyebutkan, sirine milik Kota Padang itu tidak terintegrasi dengan INA-TEWS yang dikelola pihaknya. Sirine itu, murni di bawah pengelolaan Padang yang hingga kini tidak jelas siapa yang menjadi penanggung jawab untuk membunyikan, apabila memang tsunami itu terjadi.

“Setahu saya, memang sejak dulu rusak. Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dalam hal pengelolaannya, karena tidak pernah dikoordinasikan dengan Satkorlak PB,” akunya.

Disebutkannya, satu-satunya INA-TEWS yang ada di Padang adalah yang berada di GOR Agus Salim. Alat ini, masih berfungsi baik. Bahkan, pada Senin (26/10), sekitar pukul 10.00 WIB telah diujicobakan bersama dengan lima INA-TEWS lainnya yang berada di kabupaten/kota sepanjang pesisir Sumbar.

“Untuk INA-TEWS yang kita kelola, sudah ada standart operational procedure-nya (SOP) sejak 2007 lalu. Di situ jelas, siapa yang akan memencet tombolnya, begitu potensi tsunami itu memang terjadi. Saya tidak tahu, siapa yang berwenang mengoperasikan sembilan sirine Padang. Karena, mereka tak pernah mengkoordinasikan kepada kita,” tukasnya.

Di luar itu, tambah dia, pihaknya juga punya sistem terintegrasi di kabupaten/kota. Salah satunya dengan pemakaian radio di frekuensi 143500. Di situlah segala informasi bisa diakses oleh pemangku jabatan penanggulangan bencana. “Juga bisa diakses siapa saja,” jelasnya.

Selain itu, ungkap Ade, sistem yang dikendalikan di Pusdalops Sumbar, juga diintegrasikan dengan radio siaran niaga seperti Classy FM dan Pro News FM.

“Dalam waktu dekat, juga akan bisa diakses melalui Sushi FM dan RRI. Dari pengalaman sebelumnya, setiap terjadi gempa, masyarakat sudah bisa langsung mengetahuinya melalui Classy yang jangkauannya sampai ke utara Sumbar. Selain itu, Classy juga di-relay radio swasta lainnya,” terang dia.

Filed under: SPECIAL NEWS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: