Culture beyond the Classroom

Tsunami Incar Padang


Awal Ramadhan kita dikejutkan oleh sejumlah peristiwa gempa di Sumatera, seperti Padang, Bengkulu dan Jambi, yang guncangannya terasa hingga India, Srilanka, Bangladesh, Maladewa, Thailand, Malaysia, Singapura dan Jakarta. Menyedihkan, umat Islam yang bersukacita menyambut Ramdhan, malah dikunjungi serangkaian gempa yang berpotensi Tsunami, karena guncangannya mencapai 7,9 skala richter.

Dikutip oleh Waspada Online, Kerry Sieh (55), Professor geologi California Institute of Technology yang telah mempelajari selama 16 tahun sifat buruk lepas pantai Sumatera Barat memaparkan bagaimana Padang akan di hancurkan oleh tsunami. Dia bilang catatan-catatan sejarah, pemantauan seismik (yang berkenaan dengan gempa bumi) oleh sensor-sensor yang posisinya global dan suatu study cermat mengenai pola-pola pertumbuhan koral (batu karang) bermuara dalam sebuah prediksi (perkiraan) yang luar biasa persisnya dari sebuah gempa bumi besar dan tsunami di Padang dalam jangka waktu 30 tahun mendatang.

“Terdapat sedikit sekali hal-hal dalam ilmu kebumian yang solid yang dapat anda ramalkan begitu baik sebagaimana data-data yang kita miliki menyarankan di sini. Jika data-data di sini tidak cukup, maka tidak ada kemampuan meramalkan dalam ilmu kebumian yang solid. Banyak tempat lain yang seputar dunia sama halnya mengandung resiko, tapi lebih sedikit yang diketahui mengenai keadaan mereka dan prediksi adalah lebih sukar. Akan tetapi satu resultat (hasil) yang dapat diperkirakan secara terhandalkan adalah korban tewas yang lebih banyak jumlahnya, karena penduduk dunia terus berkembang, kota-kota meluas dan puncak bermukim di tempat-tempat yang makin genting,” kata Professor Kerry Sieh.

Tsunami-tsunami telah dicatat di Padang dengan jarak waktu (interval) kurang lebih 200 tahun, bertanggal dari 1779, kata professor Kerry Sieh. Semenjak itu kota Padang bertumbuh dari penduduk kurang lebih 400 jiwa sampai 800.000.

“Oleh karena Padang mungkin meningkat kepadatan penduduknya selama dasawarsa-dasawarsa yang akan datang, maka dalam suatu makna lebih cepat gempa bumi dan tsunami terjadi, lebih baik keadaannya. Bila dia bisa menunggu paling sedikit 10 tahun lamanya, maka dia akan memberikan kesempatan kepada kita membuat beberapa kemajuan dalam mengurangi dampak-dampak” kata Kerry Sieh.

Sampai sejauh ini, kata Professor itu “Terdapat sedikit sekali kesiapan-kesiapan darurat, sedikit sekali pendidikan mengenai apa yang bisa terjadi dan apa yang anda dapat lakukan, sedikit atau tiada perencanaan perkotaan (urban) di dalam mengenali daerah-daerah yang berbahaya.” Jalan-jalan pengungsian (evakuasi) harus diperlebar dan jembatan-jembatan diperkuat. Sebuah survei keinsinyuran dibutuhkan untuk mengidentifikasikan gedung-gedung yang cukup kokoh guna berfungsi sebagai tempat-tempat pelarian yang aman.

Sebagaimana dilaporkan kantir berita Antara, pasukan keamanan berada dalam keadaan siaga tinggi di sepanjang pantai Teluk Benggala Bangladesh, Rabu, setelah kantor cuaca nasional memperingatkan kemungkinan serangan tsunami yang mematikan.

SEMOGA SEMUA INI g’ AKAN BENAR2 terjadi,..😥

Filed under: SPECIAL NEWS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: