Culture beyond the Classroom

Ironis, Pejabat Indonesia ‘Dibarter’ dengan Maling Ikan


Sebuah berita paling memiriskan dan menyedihkan terjadi saat negara tercinta Indonesia merayakan HUT Kemerdekaanya ke-65 pada 17 Agustus 2010 ini. Tiga pejabat pemerintah Indonesia, dalam ini pegawai negeri sipil Dinas Kelautan dan perikanan (DKP) Kepulauan Riau disandera polisi maritim Malaysia. Namun yang paling ironis adalah pejabat Indonesia ini akhirnya baru bebas setelah dibarter dengan 7 maling ikan asal negara itu yang sebelumnya ditangkap petugas Indonesia.

Kejadian ini bermula ketika tiga pejabat ini sedang bertugas secara resmi mengamankan wilayah laut Indonesia dari pejarahan pencuri ikan asal negeri jiran. Ketika 7 pencuri ikan bersama kapalnya berhasil ditangkap, tiba-tiba datang patroli polisi maritim Malaysia sebagai ‘backing’. Merasa kapalnnya lebih canggih, polisi Malaysia ini mengertak petugas Indonesia engan tembakan. Meski 7 maling ikan berhasil dibawa ke Batam, namun 3 pejabat yang sedang mengawal kapal pencuri ikan ini berhasil ditangkap petugas Malaysia.

Cara diplomsi pemerintah yang dinilai lembek menghadapi Malaysia dalam kasus ini melahirkan banyak kecamaman. Partai Golkar misalnya, mengkritik keras kegagalan diplomasi Indonesia terkait konflik di perbatasan dengan Malaysia. Wibawa pemerintah dinilai runtuh setelah insiden penembakan kapal dan penahanan sejumlah petugas DKP Kepri oleh Polisi Malaysia. “Wibawa Pemerintah telah pudar karena insiden ini. Pemerintah yang seharusnya tegas seperti lembek menghadapi Malaysia,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso, Rabu (18/8/2010).

Priyo makin prihatin karena cara Pemerintah Indonesia menyelesaikan konflik ini ‘beraroma’ barter. Padahal tidak dikenal adanya diplomasi barter ala teroris di dunia hubungan internasional. “Tidak ada aturan diplomasi barter. Meskipun beliau (Menlu) sudah membantah, kalau itu barter maka itu keliru besar,” kecam Priyo.
Priyo berharap Pemerintah menambah keamanan nasional terutama di garis batas perairan. Kalau ada yang melanggar batas, tentu harus ditangkap dan diberikan sanksi. “Ini petugas kita ditangkap oleh polisi setingkat polsek. Pengamanan harus ditingkatkan, kalau perlu kita tangkap saja setiap polisi diraja setingkat letnan yang masuk wilayah kita,” tandasnya.

Apalagi Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad sendiri mengakui penangkapan 3 pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) bukan yang pertama dilakukan Malaysia di Selat Malaka. “Sudah 10 kali kita mengalami yang seperti begini dengan Malaysia,” kata Fadel usai peringatan HUT ke-65 RI di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (17/8).

Komisi I DPR akan meminta penjelasan Menlu Marty Natalegawa terkait diplomasi yang  ‘membarter’ 7 nelayan Malaysia pencuri ikan dengan petugas penjaga Dinas Keluatan dan Perikanan Indonesia. Anggota Komisi I DPR Lili Chadijah Wahid menilai diplomasi itu dinilai tidak masuk akal. “Komisi I berencana memanggil Kemlu karena saya tidak tahu kenapa 7 orang nelayan tersebut dilepas,” katanya, Rabu (18/8).

Lili mengatakan, langkah tersebut menunjukkan kedaulatan Indonesia  tidak dihargai. “Masa 3  orang petugas ditahan dan ditukar dengan 7 orang maling kan susah negara kita. Yang 3 orang menjalankan tugas negara dan menegakkan hukum di perairan Indonesia, ditukar dengan 7 nelayan yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia. Itu kan tidak masuk akal,” protes politisi PKB ini.

Senada dengan itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan diplomasi Pemerintah yang terlalu lembek membuat konflik di batas perairan ini selalu terulang. “Diplomasi Indonesia terhadap Malaysia masih lembek, masih takut, masih minder. Pemerintah harus tegas menjelaskan sampai Malaysia meminta maaf,” tegasnya.

Muzani, kejadian ini telah mencoreng NKRI tepat di hari ulang tahun yang ke 65. “Pemerintah mengecewakan dan semua komentarnya bernada minder tidak solutif. Malaysia tidak hanya menghina tapi memprovokasi memasuki wilayah Indonesia,” kecam Muzani.

Seorang sahabat FB dalam statusnya mengatakan terjadinya tukar guling Pejabat Indonesia dengan 7 pencuri ikan dari Malaysia, menandakan bahwa pemimpin bangsa ini berjiwa kerdil … “Hai pemimpin bangsa belajarlah kepada Pak Soekarno dan Pak Soeharto….Kita telah diinjak-injak oleh negara kecil Malaysia…” katanya.

Filed under: SPECIAL NEWS

4 Responses

  1. negara ko makin memble aja….pejabatx…juga sama…makax…jangan asal ngomong yg banyak…berbuat yg lebih….harus tegas…kedaulatan adalah yg no 1…harga diri..patut pertahankan…

  2. SUKU JAWA says:

    SUSILO BAMBANG YUDHOYONO KLAU TAKUT PERANG MENDINGAN TURUN JABATAN AZA,,BIARKAN PEMIMPIN LAEN YG BERANI PERANG DENGAN NEGARA TERKUTUK MALAYSIA YANG DI PERBOLEHKAN MEMIMPIN,,KAMI BUTUH PEMIMPIN YANG TEGAS,BERANI.

  3. rob13y says:

    SBY emg sngat tolollll kayak kerbau,
    bisanya cuma ngomong aj,
    SBY memang sangat sangat tidak cocok jadi presiden.
    SBY telah mempermalukan Indonesia di dunia international.
    SBY FUCK,..!!!

  4. goya says:

    negara ini dipimpin oleh seorang yg banyak basa basi, kami tidak butuh basa basi, kami butuh ketegasan dari kepala negara, biar negara ini dapat dihargai oleh negara lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: