Culture beyond the Classroom

Menggadaikan Semboyan: Catatan untuk Dua Polantas Depok


Sabtu menjelang tengah hari. Lalu lintas di Jalan Nusantara Raya, Depok, bergerak teringsut. Speedometer menunjukkan mobilku bergerak dengan kecepatan dibawah 20 km/jam.
Tiba-tiba terdengar suara sirine meraung-raung. Dari kaca spion, aku melihat polisi bermotor besar melaju membuka jalan. Bukan hanya satu, tapi dua.
Semula aku mengira mereka membuka jalan bagi kendaraan darurat. Tapi dari sedan Mercedez Benz yang mengikuti motor polisi tampak hiasan bunga. Mobil pengantin.
Amarah langsung membumbung! Tak rela rasanya memberi jalan bagi mobil pengantin yang dengan angkuh menyingkirkan pengguna jalan lainnya dengan bertameng pada polisi. Kalaupun penumpangnya pejabat tinggi, tak layak mereka minta kemudahan.
Aku tak menyisi. Tapi motor polisi di samping kananku langsung melakukan gerakan potong kiri, sambil memberi isyarat untuk minggir. Motor polisi di belakangnya langsung memepet mobilku dengan agresif. Nyaris aku buka kaca untuk teriak protes, tapi aku putuskan untuk mengalah. Mana sempat aku protes kalau mobilku nyaris diserempet. Aku juga tak sempat memotret aksi kedua polisi itu.

Tanpa menunggu mobilku benar-benar ke kiri, mobil Mercedes Boxer hijau tua dengan laju menyusulku. Tak sempat kulihat siapa yang ada di dalamnya, tapi plat nomornya jelas terlihat: B 404 SD –mungkin saja mobil sewaan.
Di belakangnya, melaju konvoi mobil-mobil pribadi. Dengan jengkel, kupotong konvoi itu. Klakson mereka kontan menjerit-jerit. Aku takl peduli.
Dalam hitungan menit kami sama-sama terperangkap dalam kemacetan akibat mobil-mobil angkutan kota yang antri. Tak sulit mengendalikan Jazz untuk mencari celah keluar, meninggalkan konvoi.
Rasanya baru beberapa bulan lalu Presiden Susilo Yudhoyono menggelar rapat khusus membahas penyalahgunaan ‘vorijder’ untuk keperluan pribadi. Penelusuran wartawan ‘Kompas’ menemukan bahwa mobil & motor polisi ternyata selama ini memang bisa disewa untuk membuka jalan dengan biaya Rp.300-500 ribu. Izinnya pun cukup dari komandan pos setempat. Keperluannya mulai dari mengawal konvoi motor gede hingga mobil pernikahan.
Setelah presiden marah, barulah polisi menertibkan diri. Tapi rupanya sebagian polisi Depok berfikir presiden mungkin sudah lupa, dan mereka bisa mulai terima ‘order’ lagi.
Lumayan kan Rp.300-500 ribu untuk pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah jam –apalagi kalau ada beberapa, walaupun untuk itu mereka mesti menggadaikan semboyan ‘Polisi Pengayom Rakyat’ dan merugikan kepentingan pengguna jalan lainnya. Mungkin tak terpikir bahwa motor besar Rp.300 jutaan yang mereka pakai untuk menggebah para pengguna jalan dibeli dari pajak yang dibayar para pengguna jalan ini juga –tiap bulan belasan juta rupiah dipotong dari gajiku sebagai pajak.
Aku jadi ingat tulisan opini di Koran Tempo yang menyoroti mengapa kebanyakan kandidat kepala daerah –baik Bupati, Walikota maupun Gubernur– yang berlatar belakang polisi kalah dalam pemilihan. Ini, menurutnya, tak lepas dari citra polisi yang masih buruk, walaupun telah lepas dari TNI dan mengaku telah melakukan reformasi internal. Dalam sebuah survei korupsi, polisi masih menduduki peringkat atas sebagai lembaga yang dipersepsikan korup oleh masyarakat.
Kedua polisi bermotor besar tadi mungkin kini sedang menikmati makan siang yang lebih enak dari biasanya –terima kasih pada pasangan pengantin yang bahagia karena terbebas dari macet. Tapi sumpah serapah dari para pengguna jalan yang mereka gebah hanya akan melanggengkan citra: polisi (bukan) pengayom rakyat.
Kasihan polisiku..

sumber : wisat.multiply

Filed under: POLISI INDONESIA

2 Responses

  1. saori hara says:

    POLISI MEMANG sampah masyarakat,…!!!

  2. rob13y says:

    ha ha,..
    klo tu gw setuju bgt,
    polisi emg akan selalu jadi sampah masyarakat,. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Download Area RSS

free counters

%d bloggers like this: